Kamis, 29 Desember 2011
Rabu, 28 Desember 2011
SANG PEMIMPI
Lagu ‘Bertema Mimpi’
Mengumpulkan 12 lagu dengan tema dasar ‘mimpi’ ternyata tak mudah. Produser film dan musik Mira Lesmana mengalaminya sewaktu mengerjakan musik film sekaligus harus merilis soundtrack-nya untuk film Sang Pemimpi, sequelLaskar Pelangi. Kali ini lagu ‘Sang Pemimpi’ karya GIGI dan Mira Lesmana menjadi pilihan pada track pembuka.
GIGI Jadi ‘Lokomotif’
Bagi Mira Lesmana, sukses original soundtrack dan film Sang Pemimpi adalah ‘harga mati’. Ia tak mau disebut sebagai produser yang mendapat keberuntungan dari sukses film dan lagu Laskar Pelangi. “Awalnya saya mencoba untuk tidak terbebani dengan sukses Laskar Pelangi dengan lagu karya Giring dan Nidji, tapi mencari lagu yang pas buattema utama Sang Pemimpi memang tidak mudah. Puluhan demo lagu dari band sudah masuk, tapi belum ada yang saya rasakan pas untuk menjadi theme song. Sampai akhirnya saya bertemu dengan GIGI. Mereka mengirimkan 3 lagu dan tanpa ragu saya memilih salah satu lagunya sebagai theme song, karena begitu mendengarnya saya langsung merasakan ‘aura’ Sang Pemimpi, “ ujar Mira Lesmana.
‘Sang Pemimpi’ memang amat kuat karakter GIGI-nya, sebuah band yang mulai menjadi legend di musik pop rock. Mira Lesmana menulis kembali liriknya dan mempersilakan Armand menambahkan kata-kata sesuai dengan kebutuhan interpretasinya sebagai vokalis. “Kebetulan saya sudah baca lebih dulu novelnya, jadi setidaknya punya referensi tentang jalan cerita Sang Pemimpi, apalagi banyak dibantu Mira Lesmana untuk liriknya,” penjelasanArmand yang membawa GIGI menjadi lokomotif untuk first singleOST Sang Pemimpi.
Mira Lesmana juga ‘menyewa hak pakai’ lagu ‘Apatis’ karya Ingrid Widjanarko, yang diawal proses penciptaannya di tahun 1978 dibantu oleh Bambang Magog. ‘Apatis’ yang masuk sebagai Lagu Tercantik album Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors 1978memang lagu favorit Mira Lesmana, “Lagu ini terasa kembalibernyawa tatkala direkam dan diaransemen ulang oleh Ipang. Apatis pas untuk scene Arai dan Ikal remaja yang mengejar masa depannya, merantau dari Belitung ke Jakarta bahkan sampai ke luar negeri, dan akhirnya terdampar di Bogor,” masih cerita Mira. Ipang memiliki keunggulan interpretatif, karena latar belakangnya sebagai pencipta lagu, arranger dan vokalis band dengan range vokal yang ‘lebar’. Teknik falsetto-nya pun indah, tatkala ‘Apatis’ dibikin pola modulasi (perpindahan nada). Bandingkan juga dengan teknik vokal (dan penjiwaan) Ipang sewaktu membawakan lagu ciptaannya berjudul ‘Teruslah Bermimpi’ yang dikasih intro gitar akustik, lalu diisi piano dan drums sebagai penguat harmoni. Ipang selama ini dikenali memiliki keunggulan mengulikgenre musik Brit Pop, yang di industri musik Indonesia, padat penggemarmudanya.
Ungu Ber-Melayu-ria Pada Karya Andrea Hirata
Bagi vokalis Pasha, sejatinya menyanyi lagu melayu atau bahkan ke arah dangdut sekali pun tak jadi masalah, itu telah dibuktikan melalui album baru Ungu dengan singlehit ‘Hampa Hatiku’ featuring Iis Dahlia. Tapi untuk masuk dalam soundtrack, bagian dari gambar film layar lebar, tentu ini tantangan. Apalagi lagu ‘Cinta Gila’ bukan karya Ungu, “Ungu nggak pernah bawain lagu karya orang lain di rekaman. Untuk menguatkan karakter Ungu, kami yang membuat aransemen Cinta Gila,“ jelas Pasha. Tapi, kali ini beda. Lagu ciptaan sang novelis Andrea Hirata ‘nyawanya’ memang melayu, hal inilah yang memaksa Ungu memodifikasi - memadukan unsur tabla dengan riff-riff gitar rock ala Ungu, yang biasanya dimainkan oleh duet gitaris Ungu, Enda dan Oncy.
“Cinta Gila saya kasih ke Mira tanpa menyebut siapa penciptanya.Saya bilang, terserah mau diapain jika akan masuk dalam bagian kompilasi album musik Sang Pemimpi,“ Andrea Hirata buka kartu.
“Saya menyukai melodi dan liriknya yang nakal. Nggak nyangka kalau Andrea yang ciptain. Mungkin dia nggak pede ngasih demo lagu itu, atau takut subyektif jika saya tahu dari awal itu lagu karangan dia, lantas saya pilih juga masuk album rekaman“, lanjut Mira seraya melepas tawa. Andrea masih punya sejumlah lagu lain, meski tidak untuk musik film. Dalam versi yang lebih kental melayunya, ‘Cinta Gila’ dimasukkan sebagai bonus track pada OST Sang Pemimpi, dimasukkan sebagai track ke-13.
Tak kalah menarik adalah, masuknya lagu ‘Komidi Putar’ ciptaan Bonita dan Kritina Wiriastuti dengan nyawa minimalis – ada sound akordeon dan piano - tapi kuat karakter melodi dan liriknya, yang dinyanyikan Bonita. Puteri penyanyi senior Koes Hendratmo yang besar sebagai penyanyi café ini banyak memakai teknik vokal falsetto, kadang dipenggal-penggal (staccato), untuk menguatkan citra lagu. Aransemennya pas untuk membayangkan pusaran komidi putar, sebagai personifikasi cerita perputaran mimpi-mimpi manusia untuk merebut cita-citanya.
NineBalls band yang besar dari café di Bandung, memperkuat OST Sang Pemimpi melalui lagu karyanya, ‘Tetaplah Bermimpi’, tentu saja dibawakan tetap dengan citra utamanya yang nge-band.
Prinsip Talentscouting Miles
Prinsip talentscouting yang selalu dilakukan Mira Lesmana dan sutradara Riri Riza serta team kreatif Miles Films dalam sejumlah proyek film dan musik membawa konsekuensiharus berhati-hati menyeleksi ‘bintang baru’. Sejatinya pembuktian telah dilakukan Miles melalui film Garasi dan Laskar Pelangi. Dari dua karya sinema layar lebar itu telah lahir band atau vokalis baru, juga aktor dan aktris gres yang berdedikasi dan penuh bakat. Kini giliran dari film Sang Pemimpi, Mira dan kawan-kawan kembali menjaring sejumlah calon rising star dunia musik yang – sebagian diantaranya – pernah bergerak di jalur indie seperti band Silentium untuk lagu ‘Para Pemimpi’, sebuah lagu yang dibuka oleh bunyi perkusi, lantas dikawal piano dan semacam sound akordeon pada interlude lagu. Lagu ’Para Pemimpi’ dikirim oleh Salman Aristo, salah satu penulis skenario Sang Pemimpi, yang juga adalah pemain bas dalam band Silentium. Sebelumnya Mira hanya mendengar Silentium melalui myspace.
Lalu crew Miles Films, yang dalam film Sang Pemimpi ini kembali bekerja sama dengan Mizan Productions, menemukanRendy – kebetulan juga berakting dalam Sang Pemimpi – yang ternyata berbakat pula sebagai penyanyi. Rendy diminta membawakan lagu ‘Fatwa Pujangga’ karya Said Effendy. Lagu ini di aransemen dengan nuansa melayu yang kental oleh pedangdut senior Marakarma.
Rendy masih menyanyi bersama Claudia Sinaga dan MaudyAyunda (pemeran Zakiah Nurmala dalam film Sang Pemimpi ) pada lagu ‘Mengejar Mimpi’ciptaan Nugieyang diaransir dengan beat riang memakai spirit musik digital oleh Anto Hoed. Claudia Sinaga (16 th) - masih duduk di bangku SMA - seorang pianis perempuan dengan musikalitas yang bagus, juga diminta membawakan lagu ‘Ini Mimpiku’ ciptaan Dewiq yang digarap dalam konsep musik minimalis oleh Pay. Sampai di sini, terbaca betapa lengkapnya referensi Mira Lesmana di jagad musik Indonesia. Sebagai produser musik, ia tahu ‘nyawa’ sebuah lagu bisa kuat di tangan siapa. Ditemani team kerja yang solid dari Miles Films dan Miles Music, OSTSangPemimpi bisa diprediksi akan dekat dengan ‘pasar’ dalam pusaran industri musik sekaligus sinema Indonesia. Apalagi isi album Sang Pemimpi berisi 13 lagu, sebuah jumlah yang langka di tengah tren peredaran mini album dengan jumlahantara 4 – 6 lagu sekarang ini.
Mengumpulkan 12 lagu dengan tema dasar ‘mimpi’ ternyata tak mudah. Produser film dan musik Mira Lesmana mengalaminya sewaktu mengerjakan musik film sekaligus harus merilis soundtrack-nya untuk film Sang Pemimpi, sequelLaskar Pelangi. Kali ini lagu ‘Sang Pemimpi’ karya GIGI dan Mira Lesmana menjadi pilihan pada track pembuka.
GIGI Jadi ‘Lokomotif’
Bagi Mira Lesmana, sukses original soundtrack dan film Sang Pemimpi adalah ‘harga mati’. Ia tak mau disebut sebagai produser yang mendapat keberuntungan dari sukses film dan lagu Laskar Pelangi. “Awalnya saya mencoba untuk tidak terbebani dengan sukses Laskar Pelangi dengan lagu karya Giring dan Nidji, tapi mencari lagu yang pas buattema utama Sang Pemimpi memang tidak mudah. Puluhan demo lagu dari band sudah masuk, tapi belum ada yang saya rasakan pas untuk menjadi theme song. Sampai akhirnya saya bertemu dengan GIGI. Mereka mengirimkan 3 lagu dan tanpa ragu saya memilih salah satu lagunya sebagai theme song, karena begitu mendengarnya saya langsung merasakan ‘aura’ Sang Pemimpi, “ ujar Mira Lesmana.
‘Sang Pemimpi’ memang amat kuat karakter GIGI-nya, sebuah band yang mulai menjadi legend di musik pop rock. Mira Lesmana menulis kembali liriknya dan mempersilakan Armand menambahkan kata-kata sesuai dengan kebutuhan interpretasinya sebagai vokalis. “Kebetulan saya sudah baca lebih dulu novelnya, jadi setidaknya punya referensi tentang jalan cerita Sang Pemimpi, apalagi banyak dibantu Mira Lesmana untuk liriknya,” penjelasanArmand yang membawa GIGI menjadi lokomotif untuk first singleOST Sang Pemimpi.
Mira Lesmana juga ‘menyewa hak pakai’ lagu ‘Apatis’ karya Ingrid Widjanarko, yang diawal proses penciptaannya di tahun 1978 dibantu oleh Bambang Magog. ‘Apatis’ yang masuk sebagai Lagu Tercantik album Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors 1978memang lagu favorit Mira Lesmana, “Lagu ini terasa kembalibernyawa tatkala direkam dan diaransemen ulang oleh Ipang. Apatis pas untuk scene Arai dan Ikal remaja yang mengejar masa depannya, merantau dari Belitung ke Jakarta bahkan sampai ke luar negeri, dan akhirnya terdampar di Bogor,” masih cerita Mira. Ipang memiliki keunggulan interpretatif, karena latar belakangnya sebagai pencipta lagu, arranger dan vokalis band dengan range vokal yang ‘lebar’. Teknik falsetto-nya pun indah, tatkala ‘Apatis’ dibikin pola modulasi (perpindahan nada). Bandingkan juga dengan teknik vokal (dan penjiwaan) Ipang sewaktu membawakan lagu ciptaannya berjudul ‘Teruslah Bermimpi’ yang dikasih intro gitar akustik, lalu diisi piano dan drums sebagai penguat harmoni. Ipang selama ini dikenali memiliki keunggulan mengulikgenre musik Brit Pop, yang di industri musik Indonesia, padat penggemarmudanya.
Ungu Ber-Melayu-ria Pada Karya Andrea Hirata
Bagi vokalis Pasha, sejatinya menyanyi lagu melayu atau bahkan ke arah dangdut sekali pun tak jadi masalah, itu telah dibuktikan melalui album baru Ungu dengan singlehit ‘Hampa Hatiku’ featuring Iis Dahlia. Tapi untuk masuk dalam soundtrack, bagian dari gambar film layar lebar, tentu ini tantangan. Apalagi lagu ‘Cinta Gila’ bukan karya Ungu, “Ungu nggak pernah bawain lagu karya orang lain di rekaman. Untuk menguatkan karakter Ungu, kami yang membuat aransemen Cinta Gila,“ jelas Pasha. Tapi, kali ini beda. Lagu ciptaan sang novelis Andrea Hirata ‘nyawanya’ memang melayu, hal inilah yang memaksa Ungu memodifikasi - memadukan unsur tabla dengan riff-riff gitar rock ala Ungu, yang biasanya dimainkan oleh duet gitaris Ungu, Enda dan Oncy.
“Cinta Gila saya kasih ke Mira tanpa menyebut siapa penciptanya.Saya bilang, terserah mau diapain jika akan masuk dalam bagian kompilasi album musik Sang Pemimpi,“ Andrea Hirata buka kartu.
“Saya menyukai melodi dan liriknya yang nakal. Nggak nyangka kalau Andrea yang ciptain. Mungkin dia nggak pede ngasih demo lagu itu, atau takut subyektif jika saya tahu dari awal itu lagu karangan dia, lantas saya pilih juga masuk album rekaman“, lanjut Mira seraya melepas tawa. Andrea masih punya sejumlah lagu lain, meski tidak untuk musik film. Dalam versi yang lebih kental melayunya, ‘Cinta Gila’ dimasukkan sebagai bonus track pada OST Sang Pemimpi, dimasukkan sebagai track ke-13.
Tak kalah menarik adalah, masuknya lagu ‘Komidi Putar’ ciptaan Bonita dan Kritina Wiriastuti dengan nyawa minimalis – ada sound akordeon dan piano - tapi kuat karakter melodi dan liriknya, yang dinyanyikan Bonita. Puteri penyanyi senior Koes Hendratmo yang besar sebagai penyanyi café ini banyak memakai teknik vokal falsetto, kadang dipenggal-penggal (staccato), untuk menguatkan citra lagu. Aransemennya pas untuk membayangkan pusaran komidi putar, sebagai personifikasi cerita perputaran mimpi-mimpi manusia untuk merebut cita-citanya.
NineBalls band yang besar dari café di Bandung, memperkuat OST Sang Pemimpi melalui lagu karyanya, ‘Tetaplah Bermimpi’, tentu saja dibawakan tetap dengan citra utamanya yang nge-band.
Prinsip Talentscouting Miles
Prinsip talentscouting yang selalu dilakukan Mira Lesmana dan sutradara Riri Riza serta team kreatif Miles Films dalam sejumlah proyek film dan musik membawa konsekuensiharus berhati-hati menyeleksi ‘bintang baru’. Sejatinya pembuktian telah dilakukan Miles melalui film Garasi dan Laskar Pelangi. Dari dua karya sinema layar lebar itu telah lahir band atau vokalis baru, juga aktor dan aktris gres yang berdedikasi dan penuh bakat. Kini giliran dari film Sang Pemimpi, Mira dan kawan-kawan kembali menjaring sejumlah calon rising star dunia musik yang – sebagian diantaranya – pernah bergerak di jalur indie seperti band Silentium untuk lagu ‘Para Pemimpi’, sebuah lagu yang dibuka oleh bunyi perkusi, lantas dikawal piano dan semacam sound akordeon pada interlude lagu. Lagu ’Para Pemimpi’ dikirim oleh Salman Aristo, salah satu penulis skenario Sang Pemimpi, yang juga adalah pemain bas dalam band Silentium. Sebelumnya Mira hanya mendengar Silentium melalui myspace.
Lalu crew Miles Films, yang dalam film Sang Pemimpi ini kembali bekerja sama dengan Mizan Productions, menemukanRendy – kebetulan juga berakting dalam Sang Pemimpi – yang ternyata berbakat pula sebagai penyanyi. Rendy diminta membawakan lagu ‘Fatwa Pujangga’ karya Said Effendy. Lagu ini di aransemen dengan nuansa melayu yang kental oleh pedangdut senior Marakarma.
Rendy masih menyanyi bersama Claudia Sinaga dan MaudyAyunda (pemeran Zakiah Nurmala dalam film Sang Pemimpi ) pada lagu ‘Mengejar Mimpi’ciptaan Nugieyang diaransir dengan beat riang memakai spirit musik digital oleh Anto Hoed. Claudia Sinaga (16 th) - masih duduk di bangku SMA - seorang pianis perempuan dengan musikalitas yang bagus, juga diminta membawakan lagu ‘Ini Mimpiku’ ciptaan Dewiq yang digarap dalam konsep musik minimalis oleh Pay. Sampai di sini, terbaca betapa lengkapnya referensi Mira Lesmana di jagad musik Indonesia. Sebagai produser musik, ia tahu ‘nyawa’ sebuah lagu bisa kuat di tangan siapa. Ditemani team kerja yang solid dari Miles Films dan Miles Music, OSTSangPemimpi bisa diprediksi akan dekat dengan ‘pasar’ dalam pusaran industri musik sekaligus sinema Indonesia. Apalagi isi album Sang Pemimpi berisi 13 lagu, sebuah jumlah yang langka di tengah tren peredaran mini album dengan jumlahantara 4 – 6 lagu sekarang ini.
Selasa, 27 Desember 2011
sang pemimpi
Terkadang Dunia Menutupi Indera Manusia
Yang Tak Kuasa Bangkit Dan Bangun Merebut
Apa YAng Diinginkan Sesua Nurani Begitu pun Hidupku Seakan Terkungkung
Pada Sebuah Dimensi Yang Buta Dan Suasah Untuk Menebak Ujung Tombak Kehidupan
Jika Dinamika Ini Terjadi Hanya Untuk Menyeretku Dalam Kehancuran
Yang Tak Kuasa Bangkit Dan Bangun Merebut
Apa YAng Diinginkan Sesua Nurani Begitu pun Hidupku Seakan Terkungkung
Pada Sebuah Dimensi Yang Buta Dan Suasah Untuk Menebak Ujung Tombak Kehidupan
Jika Dinamika Ini Terjadi Hanya Untuk Menyeretku Dalam Kehancuran
Langganan:
Postingan (Atom)
